Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Mad’u Dakwah

Ditulis Oleh : Mrs. Fauziah Nasution, M.Ag.
Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Sebuah Tawaran Konsep Dakwah Untuk Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan

 

Sebagai Dekan, saya beberapa kali ditanya beberapa orang tentang program kegiatan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) IAIN Padangsidimpuan di Lembaga Pemasyarakan (Lapas) Kelas II/B Kota Padangsidimpuan.

 

Bila dicermati pertanyaan-pertanyaan dan ungkapan diatas merupakan bentuk ketidak fahaman semoga bukan bentuk ketidak pedulian dan menafikan, akan eksistensi saudara-saudara sebangsa dan seiman yang berada di Lembaga Pemasyarakatan. Warga binaan (istilah ini lebih manusiawi dan bernilai positif dibanding dengan istilah Nara pidana) adalah manusia biasa yang pernah khilaf dan salah, dan memiliki hak untuk memperoleh pembinaan agar mereka dapat merubah diri menjadi lebih baik. Dan semua elemen masyarakat punya tanggungjawab yang sama dalam melakukan pembinaan. INILAH YANG TIDAK DISADARI OLEH BANYAK ELEMEN MASYARAKAT INDONESIA. Kenyataannya, warga binaan Lapas bukanlah semua orang yang melakukan kesalahan. Tapi ada yang harus berada di Lapas karena sistem, karena resiko jabatan, karena kebodohan dan kemiskinan atau bahkan karena fitnah.

fdik-1

Kesadaran akan KEWAJIBAN dakwah yang harus diemban, dan lemahnya kesadaran elemen masyarakat akan hak-hak warga binaan untuk memperoleh seruan dakwah maka FDIK memiliki program yang berbeda dengan fakultas-fakultas dakwah lainnya. Yaitu menjadi mitra dalam pembinaan warga binaan Lembaga Pemasyarakat kelas II/B padangsidimpuan. Kegiatan dakwah di Lapas Kelas II/B Padangsidimpuan tidak  di prioritaskan dalam bentuk dakwah bi al-lisan, tapi lebih ditekankan dalam bentuk dakwah melalui seni dan psikologi/praktek Bimbingan Konseling Islam. Pemilihan metode ini karena ini disesuaikan dengan kondisi masyarakat binaan di Lapas Kls II/B Kota Padangsidimpuan. Secara psikologis mereka adalah orang-orang yang tertekan dan bermasalah. Tentunya dakwah dengan ceramah hanya diminati oleh segelintir warga binaan saja. Tapi dakwah melalui seni, baik nasyid, pidato, puisi, pop song; lagu-lagu religi dan drama jauh lebih efektif  untuk menarik minat para warga binaan.

 Melalui seni, pesan dakwah disampaikan tanpa disadari oleh para warga binaan dan yang utama dapat meringankan tekanan psikologis warga binaan 
. Disisi lain kehadiran calon-calon konsleor BKI mendengarkan isi hati warga binaan dapat dipastikan mengurangi beban psikologi yang dirasakan oleh warga binaan.  Kebahagiaan ruhani tidak hanya dirasakan oleh warga binaan tapi juga seluruh civitas akademika FDIK IAIN Padangsidimpuan.

Ada yang berbeda dengan Lembaga Pemasyarakat Kelas II/B  Kota Padangsidimpuan.  Beberapa kali Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi  hadir ke tempat tersebut, yang dirasakan adalah seakan-akan kita tidak sedang berada di tengah-tengah “penjahat dan sampah masyarakat”.  Yang menarik tidak ada batas antara pengunjung, petugas dan warga binaan lapas, terasa begitu menyatu.  Sapaan Ka. Lapas Bapak Mhd. Dwi Sarwono, Bc.IP. SH. M.Si.   kepada warga binaan dengan “anak didik saya” terasa sangat menyejukkan hati. Didukung dengan program beliau dengan kehadiran Pesantren al-Ikhlas plus program ramadhan di Lapas Kls II/B padangsidimpuan seolah “angin surga” bagi warga binaan Lapas kelas II/B Padangsidimpuan.

Sebagai penutup saya ingin menguatkan pesan saya melalui tulisan ini :

“Warga binaan lembaga pemasyarakat juga mad’u dakwah” dan jangan tambah daftar dosa kita dengan menafikan hak-hak mereka untuk memperoleh pesan-pesan ilahiyah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *