Perilaku Narsisme Dalam Organisasi

Ditulis Oleh: Mr. Aswadi Lubis, S.E.M.Si.
Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan

Setiap organisasi memerlukan sumber daya untuk mencapai usaha yang telah ditentukan. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting yang terus menerus dibicarakan. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha yang lebih bagi peningkatan dalam membina manusia sebagai tenaga kerja. Setelah menyadari arti penting manusia, maka suatu organisasi harus dapat mengatur dan memanfaatkan sedemikian rupa sehingga potensi sumber daya manusia yang ada di organisasi dapat dikembangkan. Pengaturan atau pengelolaan tersebut dimulai dari pengembangan pengintegrasian hingga pengaturan berkaitan dengan penggalian dan pelaksanaan budaya kerja dalam setiap fungsi dan jabatan yang ada di dalam perusahaan. Pengaturan juga berkait pemenuhan kebutuhan manusia (pemberian kompensasi) secara terus menerus dapat menghasilan peningkatan kepuasan kerja. Dari peningkatan kepusan kerja pada akhirnya menghasilkan kinerja yang baik. Namun bila karyawan dalam suatu perusahaan tidak mendapatkan pengaturan yang baik maka berpengaruh terhadap kepuasan, sehingga akibat tidak puasan maka mereka cenderung berperilaku negatif action dalam kerja seperti aksi demonstrasi, aksi mogok, dan aksi mangkir kerja dan sebagainya.

Umumnya setiap orang yang tergabung dalam organisasi (para karyawan/pegawai) akan berusaha untuk berprilaku dengan baik agar kelihatan dia mempunyai dedikasi, inovasi dan kreativitas yang tinggi. Banyak pegawai yang berperilaku aneh tapi nyata, Yakni yang senang mengumbar tentang kehebatan dirinya. Hampir di setiap kesempatan selalu membanggakan diri dan ambisi berlebihan. Perilaku seperti itu bisa terjadi dimana saja dia berada tidak terkecuali di lingkungan pekerjaannya. Dia tampilkan kehebatan tingkat pendidikan dan prestasi ketimbang orang lain. Bisa jadi juga karena pujian-pujian dan penghargaan yang berlebihan yang diperoleh dari atasannya. Ciri narsistik yang cenderung mengganggu lingkungan kerja adalah merasa dirinya paling “besar”. Dalam upaya membentuk citra dan reputasi yang positif, tidak mengherankan jika pegawai perusahaan tidak bisa lepas dari perilaku narsisme. Narsisme merupakan sikap yang dimiliki oleh individu dalam mempertahankan serta meningkatkan penilaian yang sangat tinggi atas dirinya sendiri. . Selain itu, Chatterje dan Hambrick juga mengatakan bahwa narsisme merupakan suatu hal yang dimiliki oleh individuatau entitas yang dikaitkan secara positif dengan harga diri. Sehingga dapat disimpulkanbahwa narsisme memiliki kebutuhan yang kuat atas penilaian orang lain terhadapkeunggulan yang dimiliki.

Oleh sebab itu, perilaku narsisme merupakan upaya yang memilikikecenderungan untuk menciptakan reputasi dan citra yang positif atas dirinya, yang jugaakan menimbulkan keyakinan serta optimisme yang kuat atas hasil yang akan diperolehnantinya.Narsisme kemungkinan juga dapat terjadi dalam menyusun kinerjanya masing-masing pada setiap tingkatan baik yang mempunyai jabatan struktural maupun fungsional. Dalam konteks pelaporan kinerja sebagai media evaluasi bagi para pihak manajemen dengan pihak-pihak yang telah ditempatkan pada posisi masing-masing dalam organisasi, fenomena narsisme dapat terjadi dalam pemenuhan pencitraan diri individu.Hal ini, dilatarbelakangi oleh pendapatGardner dan Martinko yang menyatakan bahwa perusahaan dapat membentukpencitraan yang positif serta menghindari pencitraan yang negatif melalui teks naratif yangdisampaikan melalui pelaporan keuangan. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwadalam laporan kinerja pegawai, setiap pegawai akan cenderung menampilkan prestasi-prestasiyang diraih dirinya, khususnya bentuk tanggung jawab setiap individu terhadaplingkungan sekitar organisasi untuk mendapatkan reputasi dan pencitraan yang positifdari masyarakat, serta menutupi kerusakan-kerusakan lingkungan dan alam yang diakibatkan dari aktivitas perusahaan demi melindungi kepentingan perusahaan. Kenyataanini mengindikasikan adanya upaya pegawai untuk membuat dirinya selaluterlihat baik di mata pihak manajemen, upaya ini mengarah pada praktik narsisme bahasa yangdigunakan pegawai dalam penyusunan laporankinerja masing-masing pegawai.Narsisme dalam laporan kinerja pegawai, umumnya dilakukan pegawai dengan cara menyampaikan argumen secara berlebihan agar dapatmeyakinkan pihak manajemen, bahwa tugas/posisi yang diberikan padanya sudah dikelola dengan baik oleh pegawai.

Lanjut,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *