Pendidikan Moral

Oleh: Dr. Sumper Mulia Harahap, M. Ag
Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum

Studi terhadap Kebijakan Ma’had Jamiah

Prolog

Pendidikan adalah suatu proses menanamkan dan mengembangkan pada diri peserta didik pengetahuan tentang hidup, sikap dalam hidup, nilai-nilai kehidupan, dan keterampilan untuk hidup agar kelak ia dapat membedakan perkataan yang benardan   yang salah, yang baik dan yang buruk, sehingga kehadirannya di tengah-tengah masyarakat akan bermakna dan berfungsi secara optimal. Mengamati sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari,  akan tampak adanya dua potret yang berbeda antara satu sama lain. Dalam arti, terdapat potret manusia yang bersikap dan berperilaku baik dan ada pula potret manusia yang bersikap dan berbuat yang tidak baik.

Kalau umat Islam sekarang tidak berupaya mengislamkan sains alam, soaial dan kemanusiaan dengan menciptakan konsep-konsep dasar dan dengan merubah metodologi pendekatan atau pengajarannya, dikhawatirkan akan menjurus kepada pengajaran sekularis, yang barang tentu didominasi oleh negara-negara Barat melalui berbagai macam cara demi mencapai titik kulminasi dari cita-cita mereka.

Dominasi konsep dan sistem pendidikan sekuler dari Barat didorong lagi dengan banyaknya putra-putra muslim menjadi tokoh intelektual dan pemimpin hasil didikan Barat yang tidak pernah mendapat didikan dan pengetahuan yang memadai tentang Islam. Peran penting mereka dalam membentuk sistem pendidikan sesuai dengan konsep pendidikan yang mereka terima terlihat nyata di berbagai negeri muslim seperti Turki, Mesir, India, Malaysia dan juga Indonesia.

Kajian tentang pendidikan moral, di mana dan kapanpun akan tetap menjadi perbincangan menarik di kalangan masyarakat. Sejak dahulu, kini dan masa akan datang, problematika moral selalu menghiasi kehidupan umat di seantero dunia ini. Cakupan pendidikan moral terkait dengan seluruh aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari urusan keluarga, sekolah, bahkan mencakup kepada aspek-aspek sosial, politik, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

 Perspektif Ma’had Jamiah 

Prof Nur Syam, M. Si (ketika menjabat sebagai Pgs Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI pada tahun 2014) menerbitkan Instruksi tentang Penyelenggaraan Pesantren Kampus- ma’had jami’ah- kepada seluruh Rektor/Ketua PTKIN se-Indonesia dan Koordinator Kopertais wilayah I s.d XIII nomor; Dj.I/Dt.I.IV/PP.00.9/2374/2014 tanggal 30 September 2014. Dalam Instruksinya, Prof Nur Syam, M. Si memandang bahwa melalui pesantren kampus, mahasiswa akan mendapatkan pembinaan serta diharapkan meningkatnya kultur akademik. Fungsinya: memperkuat dasar-dasar dan wawasan keagamaan/keislaman, memperkuat kemampuan bahasa Asing (Arab, Inggris dan lainnya), membentuk karakter, menjadi pusat pembinaan tahsin dan tahfizh Quran, mengembangkan keterampilan dan tradisi akademik lainnya. Modelnya; 1. pesantren penuh, menampung seluruh mahasiswa baru dengan sistem wajib asrama satu tahun penuh 2. semi pesantren atau pesantren mitra yaitu model dengan melibatkan potensi masyarakat di luar kampus seperti pesantren, kos-kosan mahasiswa dan sebagainya, atau 3. gabungan antara model 1 dan 2 atau model yang dikembangkan oleh perguruan tinggi. Kurikulumnya: keterampilan membaca dan menulis al-Quran, keterampilan ibadah dan penguasaan dasar-dasar pelaksanaan ubudiyah, keterampilan bahasa Arab dan Inggris, keterampilan memahami khazanah keislaman (kitab kuning). Diharapkan masa penyelenggaraan pesantren kampus minimal 1 tahun. Kelulusan pada program pesantren kampus menjadi prasyarat untuk mengambil mata kuliah tertentu dan/atau pelaksanaan akademik lainnya.

 Pendidikan Moral Melalui Pesantren Kampus 

Sesungguhnya term asrama merupakan bahasa tradisional dari sistem boarding school pada beberapa pola pendidikan modern yang ada di Indonesia. Sistem asrama bukanlah sesuatu yang baru dalam konteks pendidikan di Indonesia. Karena sudah sejak lama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia menghadirkan konsep pendidikan berbasis asrama yang diberi  nama “Pondok Pesantren”. Pondok Pesantren ini adalah cikal bakal boarding school di Indonesia. Dalam lembaga ini diajarkan secara intensif ilmu-ilmu keagamaan dengan tingkat tertentu sehingga produknya bisa menjadi “Kiyai atau Ustadz” yang nantinya akan bergerak dalam bidang dakwah keagamaan dalam masyarakat. Di Indonesia terdapat ribuan pondok pesantren dari yang tradisional sampai yang memberikan nama pondok pesantren modern.

Dapat diketahui bahwa pendidikan adalah usaha manusia untuk dapat membimbing anak didik agar tumbuh dan berkembang  menjadi manusia yang lebih produktif. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan potensi-potensi manusia yaitu potensi jasmani dan rohani. Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak didik secara maksimal. Pada era globalisasi ini banyak pengaruh negatif yang ditemukan di lapangan yaitu adanya kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan tawuran antar pelajar. Oleh karena itu dunia pendidikan melakukan inovasi dan kreasi dengan menawarkan konsep boarding school atau sekolah asrama.

Di pesantren kampus –ma’had jami’ah-, anak didik bisa belajar lebih maksimal, fokus, bisa berinteraksi langsung dengan dosen/instruktur/pembina asrama, dan selalu terkontrol aktivitas di asrama. Manfaat lain adalah anak didik bisa belajar mandiri. Di lingkungan kampus, para mahasiswa/i dapat melakukan interaksi dengan sesama mahasiswa/i, bahkan berinteraksi dengan para dosen/instruktur/pembina asrama setiap saat. Sistem asrama yang baik harus dilakukan secara ketat agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan atau pengaruh luar. Dengan demikian peserta didik terlindungi dari hal-hal yang negatif seperti, narkoba, tayangan film/sinetron yang tidak produktif, pergaulan bebas dan sebagainya.

Dari banyak sekolah-sekolah boarding di Indonesia, terdapat 3 corak yaitu bercorak agama, nasionalis-religius, dan ada yang nasionalis. Untuk yang bercorak agama terbagi dalam banyak corak ada yang fundamentalis, moderat sampai yang agak liberal. Hal ini lebih merupakan representasi dari corak keberagamaan di Indonesia yang umumnya mengambil tiga bentuk tersebut. Yang bercorak militer  karena ingin memindahkan pola pendidikan kedisiplinan di militer kedalam pendidikan di sekolah boarding. Sedangkan corak nasionalis-religius mengambil posisi pada pendidikan semi militer yang dipadu dengan nuansa agama dalam pembinaannya di sekolah.

Kehadiran boarding school telah memberikan alternatif pendidikan bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Seiring dengan pesatnya modernitas, dimana orang tua tidak hanya suami yang bekerja tapi juga istri bekerja sehingga anak tidak lagi terkontrol dengan baik maka boarding school adalah tempat terbaik untuk menitipkan anak-anak mereka baik makannya, kesehatannya, keamanannya, sosialnya, dan yang paling penting adalah pendidikanya yang sempurna. Selain itu, polusi sosial yang sekarang ini melanda lingkungan kehidupan masyarakat seperti pergaulan bebas, narkoba, tauran pelajar, pengaruh media, dan sebagainya ikut mendorong banyak orang tua untuk menyekolahkan anaknya di Boarding School.

Pesantren mahasiswa memiliki pola dimana peserta didik dan pembina tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan asrama dalam kurun waktu tertentu selama satu tahun. Para mahasiswa/i mengikuti pendidikan reguler bahasa Arab dan bahasa Inggris dari pagi hingga siang di tempat mahasiswa/i  berasrama. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam mahasiswa/i berada di bawah pendidikan dan pengawasan para instruktur dan pembina asrama.

Pesantren mahasiswa adalah lembaga pendidikan di mana para mahasiswa/i  tidak hanya belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup menyatu dengan di lembaga tersebut. Pesantren mahasiswa mengkombinasikan tempat di rumah, pindah ke institusi, di mana di tempat tersebut disediakan berbagai fasilitas tempat tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang belajar dan tempat olah raga, perpustakaan, kesenian. Keberadaan pesantren mahasiswa adalah suatu konsekuensi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. Dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pengembangan kajian-kajian keislaman dan keagamaan serta isu-isu globalisasi dan juga Masyarakat Ekonomi Asian miniscayakan khadim al-jami’ah (baca: Rektor/Ketua) untuk memikirkan kemampuan berkomunikasi mahasaiswa/i dengan bahasa asing khususnya Arab dan Inggris 2. Lingkungan sosial yang kini telah banyak berubah, terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser ke arah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbeda pula. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan perkembangan anak.  3. Keadaan ekonomi masyarakat yang semakin membaik, mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima oleh orang tuanya. 4. Cara pandang religiusitas masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernitas membawa implikasi negatif dengan adanya ketidak seimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.

 Epilog

Dalam bahasa Inggris, pendidikan disebut education yang berasal dari kata educate atau mendidik yang artinya perbuatan atau proses untuk memperoleh pengetahuan. Dalam pengertian luas education  merupakan proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, moral berarti kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan. Oleh karenanya, moral dipahami sebagai keadaan jiwa seseorang dalam menghadapi permasalahan hidup.

Bila dihubungkan antara pendidikan dan moral, maka pendidikan moral yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah pendidikan moral yang mengacu kepada penanggulangan perilaku manusia, yang intinya adalah pensucian jiwa dari segala marabahaya yang dikhawatirkan menggerogotinya, menuju kepada suatu solusi yang berguna untuk kebajikan manusia dalam masyarakat.

Antara pendidikan dengan moral akan berhasil bila berjalan secara berdampingan (sejajar), dalam arti pendidikan harus dibarengi dengan pengajaran moral, yang memungkinkan anak didik memiliki afektif yang berperan sebagai penunjang suksesnya kemampuan kognitif. Di sisi lain, pendidikan itu menjadi lebih berarti bila para pendidik mampu mentransfer keahlian yang dimilikinya kepada anak didik, bahkan memiliki skill (psikomotor) yang dapat berkompetisi dalam lapangan kerja yang semakin global.

Wacana tentang moralitas umat manusia, akhir-akhir ini menjadi perhatian menarik di kalangan para ahli filsafat etika (filsafat moral). Hal ini semakin mencuat, setelah banyak para ahli yang mengemukakan teori-teori moral yang berawal dari menggejalanya problematika kehidupan.

Seperti dikutip oleh Sudarminta, dalam bukunya Modes of Thought, Whitehead mengatakan:

“Morality consists in the control of process so as to maximize importance. It is the aim at greatness of experience in the various dimensions belonging to it.” (Moralitas terdiri dari pengaturan/kontrol atas proses demi maksimalisasi bobot kehidupan. Tujuannya adalah untuk mengejar keagungan pengalaman dalam berbagai dimensinya yang terkandung dalam pengalaman tersebut). Beberapa baris kemudian dalam buku yang sama ia melanjutkan” “Morality is always the aim at that union of harmony, intensity, and vividness which involves the perfection of importance for that occasion.”

(Moralitas selalu merupakan cita-cita ke arah kesatuan selaras, intensitas/ kedalaman pengalaman, dan kesegaran hidup yang melibatkan penyempurnaan bobot untuk satuan pengalaman tertentu).

Dari pernyataan di atas, diketahui bahwa menurut Whitehead, proses merupakan prinsip dasariah dalam pandangannya tentang keseluruhan realitas. Dengan memahami realitas sebagai pengaturan/ kontrol atas proses, berarti menandaskan bahwa moralitas perlu ditempatkan dalam konteks dinamika kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *